Barusan buka situs blitzmegaplex buat liat jadwal The Amazing Spiderman, eh taunya ada 3 macam film The Amazing Spiderman, yang pertama biasa, 2D, dan 3D. Kalau yang biasa ama yang 3D udah kebayang lah gimana penampakannya. Nah yang 2D ini yang bikin bingung, apakah 2D disini berarti 2 Dimensi, lalu apa bedanya dengan yang biasa.
Setelah cari bantuan ke om google dapatlah informasi tentang perbedaan kualitas ketiga format film bioskop ini. Intinya 2D disini bukan berarti 2 dimensi, tapi film yang proses peng-copy-annya dengan digital, yang artinya gambar yang dihasilkan jauh lebih halus daripada format film bioskop biasa yang kita tonton. Oya, kalau blitzmegaplex memakai istilah 2D, beda halnya dengan 21cineplex. Mereka cukup menggunakan istilah "Digital" pada screenboard untuk menampilkan jadwal film yang diputar di XXI maupun 21.
Berikut penjelasan perbedaan kualitas format film bioskop baik yang biasa, 2D, 3D, sampai 4D yang saya dapat dari tawvic.wordpress.com :
1. Biasa
Format ini biasa ditayangkan pada bioskop-bioskop tanah air, masih
menggunakan roll film dan proyektor dengan kualitas standar. Kualitas
gambar yg dihasilkan biasanya standar, terdapat benang-benang halus,
subtitle yang terkadang berubah-ubah warna atau tiba-tiba muncul
sepasang huruf yang entah maksudnya apa. Kualitas suara terkadang
cempreng karena Roll film yang sering diputar, selain itu film-film
berdurasi panjang akan ada sedikit jeda (tergantung proyektor dan
teknisi operatornya), hal ini diakibatkan penggantian Roll 1 ke Roll2,
maklum panjang pita diroll film ada batasnya. Saya pernah menonton film
tahu-tahu layar mati, ternyata operatornya masih baru sehingga tidak
cepat memasukkan roll selanjutnya. Rata-rata bioskop saat ini masih
memutar film dengan format biasa.
2. 2D
Format ini yang terbaik buat saya kenapa?, karena tidak ada benang
halus, suaranya bagus, warnanya lebih cerah dan tajam namun layar
resolusinya tidak sebesar format biasa karena semakin lebar akan semakin
gepeng layarnya. Bagian-bagian adegan yang tersensor (dengan cara
potong adegan) lebih halus ketimbang format biasa, malah seperti tidak
tersensor potong adegan. format jenis ini masih jarang dibioskop tanah
air karena harus menggunakan proyektor khusus pemutaran film-film
berformat 2D. Saya pernah beberapa kali dihadapkan pilihan 2 film dalam
judul yg sama, yang satu hanya judul film biasa, dan yang satunya lagi
ada tulisan 2D diakhir judul film itu. Saya nonton keduanya dalam waktu
yang berbeda dan memang ada perbedaan total dari format biasa dengan 2D.
Secara umum, format 2D memiliki gambar lebih halus layaknya kita
menonton DVD dirumah dengan kualitas suara yang bagus. Harga tiketnya
lebih mahal sedikit dari film berformat biasa.
3. 3D
Sekarang lagi marak film hollywood berformat 3D bahkan beberapa film
tidak memiliki versi biasanya dan hanya terdapat format 3D. Sudah tidak
asing lagi buat masyarakat indonesia, format ini mengharuskan kita
menggunakan kacamata 3D karena film-film tersebut memiliki efek gambar
keluar dari layar dan hanya bisa terlihat jika kita menggunakan kacamata
3D. Di tahun-tahun sebelumnya, hanya film animasi sajalah yang memiliki
format 3D namun berkembangnya kecanggihan CGI, maka film biasa seperti
live action pun sudah terformat 3D. Beberapa film kurang begitu pas
ditonton dengan format 3D, ketika buka kacamatapun kita masih bisa
nyaman menikmatinya, hanya ada bagian kecil saja yg berbayang yaitu teks
subtitle nya saja. Beberapa film 3D tidak terdapat Subtitle nya, konon
katanya sih pemasukan subtitle akan menurunkan kualitas film sebesar
10%, IMHO. Sayangnya, tidak semua bioskop memiliki fasilitas ini, hanya
terdapat pada bioskop besar saja dan harga tiketnya pun bisa dua kali
lipat dari harga tiket film biasa.
4. 4D
Tidak berbeda jauh dengan format 3D hanya saja efek dari film bukan
hanya gambarnya keluar melainkan ada getaran-getaran atau efek-efeknya
nyata yg dihasilkan. Misalnya saja film-film animasi bertema kehidupan
alam, ketika adegan di air, maka ada air yang menyimprat ke wajah kita
atau uap air menetes. Lalu ketika adegan gempa bumi, maka kursi yang
kita duduki akan bergetar juga, unik dan mengasyikan tapi para penonton
pasti tidak akan fokus ke filmnya melainkan ke efeknya saja. Film
berformat seperti ini tidak hanya mengacu pada layar bioskop saja
melainkan beberapa aplikasi media seperti penggerak kursi yg
menghasilkan getaran, uap air, serta beberapa efek lainnya termasuk AC
yang bisa tiba-tiba dingin banget saat adegan salju dan Heater yang
dapat memanas saat adegan padang pasir. Format film ini harus diputar
pada bioskop khusus seperti IMAX Keong mas Taman Mini Indonesia Indah
dan Bioskop Gelanggang Samudra Ancol. Harga tiketnya pun pasti lebih
mahal dan film-filmnya terbatas.
Itulah perbedaan dari kualitas format film yang diputar di bioskop. Setelah mendapat informasi itu, akhirnya saya pun memilih 2D movie untuk menonton The Amazing Spiderman di Blitzmegaplex Paris Van Java, Jl. Sukajadi Bandung.